Langsung ke konten utama

#6 di 2020: Telepon


"Halo?"

Penelepon di  ujung sana menahan napasnya, yang satu mengerutkan kening karena tak ada jawaban.

"Ini siapa?"

"Ji An..." Ji An hanya ingin mencoba sekali lagi. Sekali ini saja.

"Oh, apa mencari Ji An? Maaf, dia pergi dan belum ditemukan."

Lalu sambungan diputus. Ji An menghela napasnya dan berjalan ke arah gadis yang sekarang memainkan ponselnya di pinggir sungai berselimut salju.

"Minum, Yi. Ini hangat," ucap Ji An seraya menyerahkan segelas kopi hangat, kesukaan Liu Yi.

"Tahu tidak? Barusan ada yang menelepon lagi menanyakan Ji An," Liu Yi tertawa, pandangan tak beralih dari ponselnya.

"Aku akan membenci Ji An sampai ia pulang."

Lalu Liu Yi melempar ponselnya ke sungai yang membeku dan melompat bak anak kecil yang baru dapat lemparan terjauh. Dan lagi-lagi, Ji An hanya bisa menghela napasnya, menyesal dalam diam.


*****


Jtn, 6/1/2020

22.22

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hatta, Jejak yang Melampaui Zaman

Membaca buku Hatta, Jejak yang Melampaui Zaman , seperti membaca catatan perjalanan yang diabadikan karena tahu dua puluh tahun ke depan, pembaca mungkin tidak akan ingat siapa yang melakukan perjalanan. Bersama dengan empat bapak bangsa Republik Indonesia lainnya, Sukarno, Tan Malaka, dan Sutan Sjahrir; Tempo menerbitkan serial monograf Bapak Bangsa: Hatta, Jejak yang Melampaui Zaman. Kalau biografi biasanya dirunutkan dari hari kelahiran hingga kematian, buku ini lebih berfokus pada tempat-tempat berkesan bagi Hatta dan teman-teman seperbuangan nya. Lain waktu menghasilkan cerita, tapi tempat menghasilkan cerita. Seperti prolognya, kita akan bertamasya sejarah bersama Bung Hatta. Saat membaca buku ini, kita akan dibawa ke tempat-tempat Hatta menghabiskan waktu dengan buku-bukunya. Dari Bukit Tinggi sampai ke Rotterdam, hingga ke pengasingan di Banda Neira. Dari menguatkan pondasinya sebagai seorang Muslim dan berkenalan dengan buku, hingga mempertahankan prinsip sebagai akademisi di...

Hidup dan Beriman: Refleksi dari Sebuah Pilihan

"Kalau tentang pemikiran-pemikiran bunuh diri dan destruktif bagaimana?" "Hmm... Kalau itu sebenernya saya bisa mengendalikan sendiri. Pikiran-pikiran bunuh diri itu memang selau terlintas setiap hari, tapi saya tahu saya gak akan melakukannya karena memang saya tidak berniat untuk itu, hanya sekadar pemikiran yang biasa lewat." Lalu pembahasan kami beralih ke pikiran negatifku yang lain. Yang sangat banyak. Tapi saat itu aku sadar, kalau sebenarnya aku capable untuk memilih . Ternyata aku bisa dengan sadar memilah hal-hal yang menjagaku tetap dalam koridor yang tepat, dalam kasusku, menahan diri untuk tidak mati. Jumat lalu kebetulan baca arti Al-Kahfi, di ayat 29 ada potongan, "...Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; barang siapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir. Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang zalim, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta...

Adik Asuh

Guru baru itu membuat banyak perubahan. Abu Sopian namanya. Biasa kami panggil pak Abu. Banyak program-program yang dibuatnya di SDIT Al-Kautsar. Stroke ringan yang dideritanya tak membuatnya malas-malasan di kantor sekolah. Tetap gigih mengajar dari kelas 1-6, dan menjadi guru PAI kelas 6. Manusia luar biasa...