Langsung ke konten utama

#16 di 2020: Maddah

Surakarta, 21 November 1993.



Maddah artinya dibaca lebih dalam.

Setidaknya itu kata pedagang keturunan Arab yang mampir ke pesisir tahun lalu. Kalau Mada artinya kekuatan dalam pertempuran. Itu kata ibu.

Mada dan Maddah harusnya tidak berhubungan. Tapi entah mengapa semua orang mengharuskanku membaca lebih dalam. Aku punya kekuatan yang akan berguna, dan aku menyadarinya. Tapi lagi-lagi aba selalu pergi melaut dengan sebuah pesan, "Maddah, Mada. Maddah. Maddah!"

Halo, Aba?

Maddah itu menyulitkan. Pepatah tetua, saat kamu mengetahui musuhmu lebih dalam, kamu akan mencintainya juga. Maddah sudah membuat Mada membaca, Aba. Mendalami hal-hal ambigu yang seharusnya dan tidak seharusnya.

Maddah telah meninggalkan perasaan pada Mada, Aba. Perasaan benci, cinta, dan bersalah jadi satu yang harus Mada tanggung seumur hidup. Sampai ada Mada yang lain.


*****


Jtn, 16/1/2020

22.08

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hatta, Jejak yang Melampaui Zaman

Membaca buku Hatta, Jejak yang Melampaui Zaman , seperti membaca catatan perjalanan yang diabadikan karena tahu dua puluh tahun ke depan, pembaca mungkin tidak akan ingat siapa yang melakukan perjalanan. Bersama dengan empat bapak bangsa Republik Indonesia lainnya, Sukarno, Tan Malaka, dan Sutan Sjahrir; Tempo menerbitkan serial monograf Bapak Bangsa: Hatta, Jejak yang Melampaui Zaman. Kalau biografi biasanya dirunutkan dari hari kelahiran hingga kematian, buku ini lebih berfokus pada tempat-tempat berkesan bagi Hatta dan teman-teman seperbuangan nya. Lain waktu menghasilkan cerita, tapi tempat menghasilkan cerita. Seperti prolognya, kita akan bertamasya sejarah bersama Bung Hatta. Saat membaca buku ini, kita akan dibawa ke tempat-tempat Hatta menghabiskan waktu dengan buku-bukunya. Dari Bukit Tinggi sampai ke Rotterdam, hingga ke pengasingan di Banda Neira. Dari menguatkan pondasinya sebagai seorang Muslim dan berkenalan dengan buku, hingga mempertahankan prinsip sebagai akademisi di...

Pendidikan Ideal

Aku tahu harusnya aku tidak melakukan ini, tapi aku tidak bisa menahan rasa penasaran yang menyelimuti pikiranku tentang orang itu. Beliau adalah Pak Armawan, satpam di masjid kampusku. Kata Pak Yat –satpam masjid yang satunya, namanya harusnya Darmawan, tapi terhapus huruf D-nya saat mendaftarkan kelahiran. Lagi pula, Darmawan rasanya tidak cocok dengan imej pak Armawan yang galak kalau soal parkir-memarkir di masjid kampus. Ada satu hal yang membuatku penasaran tentang beliau, yang membuatku melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan, apalagi saat hari raya: memperhatikan beliau lebih dari memperhatikan bapak dosen yang saat itu sedang berkhutbah. Pak Armawan punya kebiasaan, yaitu menangis mendengar khutbah shalat iedul adha . Padahal khutbah iedul adha menurutku tidak spesial, materinya dari tahun ke tahun itu-itu saja, diawali kisah Nabi Ibrahim yang mencari tuhan sampai ke kisahnya bersama Nabi Ismail tentang kurban. “Mohon maaf lahir batin, Ker,” aku meng...

#8 di 2020: Piano

Please take for free. Di negara ini, garage sale biasanya dilakukan saat akan pindah rumah atau kekurangan biaya untuk membayar pengobatan keluarga yang sakit. Kalau ada keluarga yang meninggal, biasanya barangnya akan dilelang, disumbang, atau dikenang. Tapi Lilianne dan orang tuanya memilih garage sale untuk menjual barang-barang milik Roseanne. Roseanne meninggal enam bulan lalu saat mobil yang dikendarainya bersama Lili mengalami kecelakaan. Kecelakaan itu membuat Lili harus tidur panjang selama lima bulan tanpa tahu bagaimana keadaan Roseanne. Sebenarnya Lili lebih suka mengenang, tapi ia juga tahu ayah dan ibunya telah melalui berbagai kesulitan setahun belakangan dan garage sale adalah salah satu cara untuk move on dan memulai sesuatu yang baru. Piano yang tadi Lili pasangkan tulisan ‘Ambil gratis’ itu adalah piano tua kesayangannya. Roseanne… sebenarnya Roseanne jauh lebih menyukai gitar, tapi saat ia bermain piano, Lili tidak akan bosan mendengarnya dari...