Langsung ke konten utama

#5 di 2020: Hijau


"Kenapa lihatinnya begitu?"

"Kamu enggak takut?"

"Hijau-hijau?"

"Iya."

"Enggak."

"Nanti kalau kamu diambil gimana?"

"Kamu musyrik?"

"Ya enggak, lah!"

"Nah, jangan percaya sama gitu-gituan. Baju hijau baju polkadot, kalau ditulisnya pergi hari itu, ya hari itu juga perginya."

"Ya, kan, jaga-jaga."

"Kamu doain aku mati?"

"Enggak, lah."

"Siapa tahu."

"Enggak. Tapi manusia suka lucu. Bulan lalu ada yang terseret ombak. Dia pakai baju hijau. Dibilangnya seserahan untuk si Nyi Agung, karena sudah melanggar pantangan."

"Lalu?"

"Kemarin ada yang terseret ombak juga. Dia pakai baju hitam. Dibilangnya mati karena keram kaki."

"Berarti benar ya, yang pakai baju hijau itu dijadikan tumbal."

"Lah, katanya tadi enggak percaya?"

"Iya, tumbal pembenaran logika manusia. Kalau yang hilang banyak dan bajunya warna-warni, kira-kira dibilang apa, ya?"

"Nyi Agung sedang bahagia, mungkin. Jadi mau prasmanan. Hahaha."

"Hahaha."


-+-+-+-+-


Itu hari terakhir kami bercakap. Di atas pasir hitam, di bawah matahari terbenam, di antara deburan gelombang Pantai Selatan. Karena esok dan seterusnya kami saling tidak tahu satu sama lain ada di mana.


*****


Purworejo, 5/1/2020

20.05

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hatta, Jejak yang Melampaui Zaman

Membaca buku Hatta, Jejak yang Melampaui Zaman , seperti membaca catatan perjalanan yang diabadikan karena tahu dua puluh tahun ke depan, pembaca mungkin tidak akan ingat siapa yang melakukan perjalanan. Bersama dengan empat bapak bangsa Republik Indonesia lainnya, Sukarno, Tan Malaka, dan Sutan Sjahrir; Tempo menerbitkan serial monograf Bapak Bangsa: Hatta, Jejak yang Melampaui Zaman. Kalau biografi biasanya dirunutkan dari hari kelahiran hingga kematian, buku ini lebih berfokus pada tempat-tempat berkesan bagi Hatta dan teman-teman seperbuangan nya. Lain waktu menghasilkan cerita, tapi tempat menghasilkan cerita. Seperti prolognya, kita akan bertamasya sejarah bersama Bung Hatta. Saat membaca buku ini, kita akan dibawa ke tempat-tempat Hatta menghabiskan waktu dengan buku-bukunya. Dari Bukit Tinggi sampai ke Rotterdam, hingga ke pengasingan di Banda Neira. Dari menguatkan pondasinya sebagai seorang Muslim dan berkenalan dengan buku, hingga mempertahankan prinsip sebagai akademisi di...

Hidup dan Beriman: Refleksi dari Sebuah Pilihan

"Kalau tentang pemikiran-pemikiran bunuh diri dan destruktif bagaimana?" "Hmm... Kalau itu sebenernya saya bisa mengendalikan sendiri. Pikiran-pikiran bunuh diri itu memang selau terlintas setiap hari, tapi saya tahu saya gak akan melakukannya karena memang saya tidak berniat untuk itu, hanya sekadar pemikiran yang biasa lewat." Lalu pembahasan kami beralih ke pikiran negatifku yang lain. Yang sangat banyak. Tapi saat itu aku sadar, kalau sebenarnya aku capable untuk memilih . Ternyata aku bisa dengan sadar memilah hal-hal yang menjagaku tetap dalam koridor yang tepat, dalam kasusku, menahan diri untuk tidak mati. Jumat lalu kebetulan baca arti Al-Kahfi, di ayat 29 ada potongan, "...Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; barang siapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir. Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang zalim, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta...

Adik Asuh

Guru baru itu membuat banyak perubahan. Abu Sopian namanya. Biasa kami panggil pak Abu. Banyak program-program yang dibuatnya di SDIT Al-Kautsar. Stroke ringan yang dideritanya tak membuatnya malas-malasan di kantor sekolah. Tetap gigih mengajar dari kelas 1-6, dan menjadi guru PAI kelas 6. Manusia luar biasa...