Langsung ke konten utama

Postingan

Him

He rarely spoke to me. I rarely speak to him. He doesn't know how to talk to me. The same case happen to me. Yet I still mention him in front of everyone. I think by mentioning him would reduce the pain. I think by mentioning him, would mke me feel like he is still here. I miss him. May, 10th 2015 8:55 PM

Diam dan Permohonan

21 Desember 2014 Aku masih saja bingung. Kenapa orang senang meninggalkan sesuatu dengan diam? Tidak mau membuka mulut tapi pergi seakan yang ditinggalkannya adalah yang paling salah sedunia. Atau membuat merasa seperti itu. Susah kah untuk sekedar mengungkapkan? Padahal mungkin kita bisa mencari jalan bersama supaya kau tetap tinggal. Atau aku bisa melepasmu dengan kesadaran penuh tanpa membuat hal yang kau tinggalkan terseok keheranan. Tidak tahukah kalau diam juga bisa membawa hal yang ditinggalkannya meraung menuju kehancuran? 5 Januari 2015 Tidak perlu menghindar kalau kau tak suka dengan caraku. Mendengar alasanmu membuatku sedikit lega walaupun itu keluar dari bibir orang lain. Setidaknya ada yang bisa didengar, ada yang bisa diusahakan, diperbaiki. Tidak perlu segan untuk melakukan segala sesuatu. Anggap saja aku tidak ada. Aku sedih melihatmu tidak berada di shaf terdepan shalat dzuhur seperti biasanya. Aku sedih melihatmu pulang padahal seharusnya ...

White Chocolate

            Hujan lagi. Aih, padahal sudah seminggu selalu seperti ini tapi aku tetap tidak membawa payung. Selalu begini kalau lewat jalan besar ini. Dan selalu di sini, di depan kafe ini aku selalu berhenti menunggu hujan reda. Kafe yang setiap hari aku lewati semenjak memutuskan untuk berjalan kaki pulang pergi sekolah. Kafe yang dulunya setiap minggu aku datangi bersama Val.             “Ada kafe baru di jalan besar. Ayo, nanti sore kita ke sana. Kata orang-orang es krimnya enak sekali.”             “Jangan. Ingat terakhir kali kamu makan es krim lalu besoknya kamu jadi penghuni tetap UKS selama tiga hari?”

Seri

“Kalian tahu berapa kesalahan yang kalian buat hari–“ Aku tidak lagi mendengar suara kawanku yang berdiri di sebelahku. Peduli amat, kawan lain juga sama sepertinya, berteriak “Jawab. Kita gak ngomong sama patung.” atau mematung berdiri di depan satu pasukan melipat kedua tangannya, menyelipkannya di antara dua ketiaknya.

Ibu-Ibu di Rumah Sakit

Terima kasih, Untuk ibu yang rela menembus hujan Untuk ibu yang rela menyalip truk-truk gandeng Untuk ibu yang rela menelpon ambulan Untuk ibu yang rela membopong putrinya ke UGD Terima kasih,

Bagai Daun yang Jatuh

Aku tak akan berkata wajahmu bagaikan rembulan yang menerangiku di malam kelam, bukankah wajah bulan tak seindah wajahmu? Aku tak akan berkata cintamu seterik matahari yang menyinari ujung jalan kegelapan, bukankah watak matahari tak seindah watakmu?

Putih

Putihku ada di dalam Putihku tertumpuk di dasar Putihku dinding dari segala tumpahan tinta-tinta ambisi tertunda