Langsung ke konten utama

Adik Asuh

Guru baru itu membuat banyak perubahan. Abu Sopian namanya. Biasa kami panggil pak Abu. Banyak program-program yang dibuatnya di SDIT Al-Kautsar. Stroke ringan yang dideritanya tak membuatnya malas-malasan di kantor sekolah. Tetap gigih mengajar dari kelas 1-6, dan menjadi guru PAI kelas 6. Manusia luar biasa...

Banyak memberikan motivasi pada kami yang sedang menghadapi masa-masa UASBN saat itu, juga mengisi waktu luang saat menunggu hasil UASBN. Banyak program yang diterapkannya. Salah satunya yang membuat saya tertarik.... Program Kakak Asuh.

Kami, kelas 4, 5, dan 6 mencari dan memilih sendiri adik kelas 1, 2, 3. Kelas 6 mendapat kelas 1A, 1B, dan 1C. Kelas 5 mendapat kelas 2A dan 2B, kelas 4 dapat kelas 3A dan 3B. Akhwat dan Ikhwan dipisah. Kalau sudah dapat, kami para senior *weeh akan membimbing mereka waktu sholat Dzuhur dan dzikir setelahnya.

Saya memilih santai, sedangkan yang lain sudah mencari-cari waktu istirahat pertama sekitar jam 10. Dan ternyata, istirahat ke-2 sebelum sholat dzuhur, saya sendiri yang puyeng karena ternyata adik-adik semuanya sudah punya majikan (?). Cuma bisa garuk-garuk kepala sambil bawa mukena turun ke bawah sambil lihat akhwat lain jemput adik-adik kelas 1.

Waktu akan ambil air wudhu... Habis airnya! Maklum, bukan air PAM. Jadi akhwat berencana ke masjid dekat sekolah, sedangkan ikhwan di masjid belakang sekolah.

Aku lihat temanku, lupa siapa, adik asuhnya ada 4, kata pak Abu kan 3-3, jadi aku minta satu (?).

Namanya Adzkia, kelas 1C, manis, keliatannya pendiam, atau mungkin memang belum kenal. Lalu aku minta satu adik lagi dari teman yang adik asuhnya ada 4 orang, namanya Bella, adik dari teman sekelasku, hitam manis.

Lalu kami dan akhwat lain berbaris ke masjid dekat sekolah. Di masjid, kami mengantri untuk wudhu, dan adik-adik kelas 1, 2, dan 3 masih harus diatur. Mengawasi mereka saat wudhu, sholat, dzikir, hal yang menyenangkan.

Hari selanjutnya seperti biasa, kami masih belum begitu akrab. Lalu hari selanjutnya juga sama, waktu sholat dzuhur akan dimulai, saya lihat ada seorang akhwat kecil sendiri di belakang, aku tanya, "Itu adik asuhnya siapa?" semua menggeleng.

Akhirnya aku menyuruhnya sholat di samping Adzki. Setelah sholat dan dzikir selesai, sambil membereskan mukena, aku bertanya, "Nama kamu siapa?" dia jawab, "Tia" terus saya tanya lagi, "Kamu udah punya kakak asuh?" dia terlihat kebingungan, akhirnya menggeleng. "Ya udah, besok kamu sama aku ya, Tia, kelas 1C juga kan?" Tia mengangguk.

Dan jadilah hari-hari pertama sukses, saat istirahat baru akan makan bersama di depan kelas, mereka sudah menjemput, dan dengan sukarela membawakan mukena kami.

Saya, Adzki, Bella, dan Tia semakin dekat, saya mengajarkan mereka dzikir setelah sholat, sedikit-sedikit.

Setelah 1 bulan, adik-adik lain mulai tidak mau diatur, mau sholat sendiri, bersama teman-temannya, dan hati mereka berteriak 'bebasss'.

Adzki, Tia, dan Bella juga, terkadang mereka sholat di samping saya, terkadang bersama teman-temannya, saya memberikan mereka kebebasan untuk bersama teman-teman sebayanya. Kadang-kadang anak lain (temannya Adzkia, Tia, Bella) juga sholat di sampingku dan bercerita tentang kakak asuh mereka.

Ikatan yang hanya 'proker' menjadi ikatan emosional, pernah saya dengar seorang anak dari kelas 1A bercerita pada temannya yang waktu itu ada di belakang shaf sholat saya, kalau kakak asuhnya lebih sayang dengan anak kelas 1C daripada dia. Dan alhasil, dia sering ngambek-ngambekan dengan sang kakak asuhnya.

Memang lebih baik tidak melebihi batas, walaupun saya sendiri terkadang iri dengan teman-teman kelas 6 yang kelihatannya adik-adik asuhnya sangat sayang kepadanya. Dan saya memberikan pelajaran pada mereka supaya tidak bersikap berlebihan.

Berjalan begitu begitu dan begitu hingga setelah UASBN. Dan berhenti saat akhirussanah. Sayang tidak sempat bertemu Tia dan Bella. Hanya sebuah candaan kecil pada Adzkia saat ia lewat tempat duduk penonton saat akan latihan menari untuk akhirussanah.

Program yang luar biasa untuk saya yang tidak pernah merasakan mempunyai 3 orang bahkan seorang adik kecil pintar seperti mereka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hatta, Jejak yang Melampaui Zaman

Membaca buku Hatta, Jejak yang Melampaui Zaman , seperti membaca catatan perjalanan yang diabadikan karena tahu dua puluh tahun ke depan, pembaca mungkin tidak akan ingat siapa yang melakukan perjalanan. Bersama dengan empat bapak bangsa Republik Indonesia lainnya, Sukarno, Tan Malaka, dan Sutan Sjahrir; Tempo menerbitkan serial monograf Bapak Bangsa: Hatta, Jejak yang Melampaui Zaman. Kalau biografi biasanya dirunutkan dari hari kelahiran hingga kematian, buku ini lebih berfokus pada tempat-tempat berkesan bagi Hatta dan teman-teman seperbuangan nya. Lain waktu menghasilkan cerita, tapi tempat menghasilkan cerita. Seperti prolognya, kita akan bertamasya sejarah bersama Bung Hatta. Saat membaca buku ini, kita akan dibawa ke tempat-tempat Hatta menghabiskan waktu dengan buku-bukunya. Dari Bukit Tinggi sampai ke Rotterdam, hingga ke pengasingan di Banda Neira. Dari menguatkan pondasinya sebagai seorang Muslim dan berkenalan dengan buku, hingga mempertahankan prinsip sebagai akademisi di...

Pendidikan Ideal

Aku tahu harusnya aku tidak melakukan ini, tapi aku tidak bisa menahan rasa penasaran yang menyelimuti pikiranku tentang orang itu. Beliau adalah Pak Armawan, satpam di masjid kampusku. Kata Pak Yat –satpam masjid yang satunya, namanya harusnya Darmawan, tapi terhapus huruf D-nya saat mendaftarkan kelahiran. Lagi pula, Darmawan rasanya tidak cocok dengan imej pak Armawan yang galak kalau soal parkir-memarkir di masjid kampus. Ada satu hal yang membuatku penasaran tentang beliau, yang membuatku melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan, apalagi saat hari raya: memperhatikan beliau lebih dari memperhatikan bapak dosen yang saat itu sedang berkhutbah. Pak Armawan punya kebiasaan, yaitu menangis mendengar khutbah shalat iedul adha . Padahal khutbah iedul adha menurutku tidak spesial, materinya dari tahun ke tahun itu-itu saja, diawali kisah Nabi Ibrahim yang mencari tuhan sampai ke kisahnya bersama Nabi Ismail tentang kurban. “Mohon maaf lahir batin, Ker,” aku meng...

#8 di 2020: Piano

Please take for free. Di negara ini, garage sale biasanya dilakukan saat akan pindah rumah atau kekurangan biaya untuk membayar pengobatan keluarga yang sakit. Kalau ada keluarga yang meninggal, biasanya barangnya akan dilelang, disumbang, atau dikenang. Tapi Lilianne dan orang tuanya memilih garage sale untuk menjual barang-barang milik Roseanne. Roseanne meninggal enam bulan lalu saat mobil yang dikendarainya bersama Lili mengalami kecelakaan. Kecelakaan itu membuat Lili harus tidur panjang selama lima bulan tanpa tahu bagaimana keadaan Roseanne. Sebenarnya Lili lebih suka mengenang, tapi ia juga tahu ayah dan ibunya telah melalui berbagai kesulitan setahun belakangan dan garage sale adalah salah satu cara untuk move on dan memulai sesuatu yang baru. Piano yang tadi Lili pasangkan tulisan ‘Ambil gratis’ itu adalah piano tua kesayangannya. Roseanne… sebenarnya Roseanne jauh lebih menyukai gitar, tapi saat ia bermain piano, Lili tidak akan bosan mendengarnya dari...